Powered By Blogger

Senin, 28 Februari 2011

FOSFAT

Fosfat merupakan fosfat anorganik sebagai salah satu bentuk fosforos terlarut dalam air. Bentuk lain phosphorus adalah phospat organik yang sering disebut Polifosfat atau Metaposfat. Orto-fosfat terlarut terdiri dari ion-ion H2PO4¬-, HPO42-, PO43-. Orto-fosfat dalam perairan terdapat dalam jumlah yang kecil, yang meruapakan faktor pembatas bagi produktivitas perairan dalam. Orto-fosfat merupakan unsur hara yang realatif langka diperairan sehingga merupakan faktor pembatas bagi proses fotosintesis. Ketersediaannya tidak hanya ditentukan oleh jumlah total fosfat, namun banyak dipengaruhi derajat keasaman dan kadar Ca sebagai penentu kelarutan fosfat dalm bnetuk Orto-fosfat. Orto-fosfat adalah bentuk fosporus yang dapat langsung dimanfaatkan oleh organisme nabati (fitoplankton dan tumbuahan air).
Konsentrasi orto-fosfat dalam air dapat berkurang karena penyerapan fitoplankton (jasad nabati) dan bakteri serta adanya penyerapan oleh lumpur dasar akibat kelebihan ion kalsium pada pH tinggi atau ion besi dan ion aluminium pada pH rendah (Anonim, 2002).
Unsur fosfat sama halnya dengan unsur lain yang terkandung di dalam air laut. Unsur ini juga sangat penting untuk pembentukan protein dan metabolisme sel organisme. Hal ini dijelaskan oleh Sumawijaya (1974), bahwa fosfor sangat dibutuhkan dalam transport energi pada sel dan terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit, sehingga fosfor sering merupakan faktor pembatas bagi produktifitas perairan.
Sedimen berpengaruh terhadap ketersediaan fosfor di daerah perairan. Proporsi fosfor yang tinggi dalam massa air akan berkurang oleh adanya penyerapan ke dalam mineral sedimen. Satu fraksi menyerap ke dalam keadaan anionic dan lainnya ke dalam struktur kisi kristal dengan menggantikan ion-ion hidroksil. Faktor utama yang mengatur proses ini adalah kemampuan oksidasi reduksi, nilai-nilai pH dan kepekatan zat-zat lainnya.
Sedangkan fosfor terdapat di laut dalam berbagai keadaan. Sebagian terdapat dalam senyawa organik seperti protein dan gula, seabgian dalam butiran-butiran kalsium fosfat (CaPO4) dan besi fosfat (FePO4) anorganik, dan sebagian terlarut sebagai fosfat organik. Yang terakhir ini terdapat terbanyak di air laut, dapat mencapai 90 % dari seluruh fosfor di laut, terutama pada saat produksi bahan organik tinggi dan penyerapan rendah. Sebaliknya jika produktivitas laut tinggi adar fosfat anorganik rendah, mencapi kurang dari 50 % dari seluruh fosfor.
Ortophosfor adalah senyawa fosfat anorganik yang teramat berlimpah dalam daur fosfor. Senyawa ini dihasilkan oleh proses pemecahan fosfat organik oleh bakteri dari jaringan yang sedang membusuk. Ini merupakan proses yang realatif sederhana dan mudah, karenanya terjadi sangat sering di dalam kolom air, sehingga menyediakan fosfor untuk diserap oleh tumbuh-tumbuhan. Jadi meskipun fosfor kadarnya jauh di bawah nitrogen, tetapi unsur ini di dalam keadaan mudah diperoleh dari mintakat tembus cahaya matahari. Karena itu fosfor tidak merupakan faktor pembatas dalam produktivitas laut.
Dalam daur fosfor banyak interaksi yang terjadi antara tumbuh-tumbuhan dan hewan, antara senyawa organik dan anorganik dan antara kolom air dan permukaan sera substrat. Misalnya antara beberapa jenis hewan membebaskan sejumlah besar fosfor terlarut dalam kotorannya. Fosfor ini kemudian terkarut dalam air sehingga tersedia bagi tumbuh-tumbuhan. Sebagian senyawa fosfat anorganik mengendap sebagai mineral kedasar laut.
Kadar rata-rata fosfat dalam laut adalah 70 mikrogram/L atau (0,07 ppm). Tetapi keragaman yang besar dari nilai rata-rata ini terjadi, terutama dekat permukaan laut, dimana nilai-nilai fosfor rendah. Pola sebaran kadar fosfor dalam seluruh kolom air serupa untuk semua samudra, baik samudara Atlantik, Hindia, maupun Pasifik. Namun kadar fosfor keseluruhan di Samudara Atlantik jauh lebih rendah dari pada di kedua samudra lainnya. Jika ditinjau dari kejelukan, sebaran menegak fosfor dapat dikelompokkan menjadi tiga lapisan. Lapisan permukaan mengandung kadar fosfor yang minimal karena penyerapan yang tinggi akibat tingginya produksi organik. Di lapisan kedua, yang mencapai beberapa ratus meter jeluknya kadar fosfor menaik dengan cepat, karena penyerapan unsur kimia ini mengurang disebabakan oleh berkurangnya kegiatan pembentuakn zat oragnik dan karean di alpisan ini pelepsan fosfor melalui proses pembusukan mulai. Pada lapisan ketiga di bawahnya yang mecapai kejelukan antara 500-1000 m, kadar fosfor maksimal, kemudian ada penurunan kadar fosfor pada lapisan dasar laut yang pekat (Romimohtarto, K. dan Sri Juwana, 1999).
Sedangkan menurut Telesession 1 (1997) menyatakan bahwa fosfor dalam protoplasma cenderung beredar setelah terpecah dari bahan organik menjadi fosfat (PO4-) yang kemudain digunakan lagi oleh tumbuhan. Sumber fosfat terbesar berasal dari batuan dan endapan geologi yang berbentuk selama proses grologi. Endapan-endapanini sedikit demi sedikit tererosi sehingga fosfat terlepas dan masuk ke dalam ekosistem. Akan tetapi sebagian besar fosfat diendapkan di dasar laut. Kecepatan penggunaan fosfat dari laut ke daratan jauh di bawah kecepatan fosfor yang mengalir ke laut.
Walaupun pengambilan ikan dari laut oleh manusia dan peranan burung-burung yang dapat mengembalikan fosfor dari laut ke daratan namun hal ini belum mampu mengimbangi kehilangan fosfor tersebut. Kegiatan manusia melalui penambangan fosaft dan industri pengolahn pupuk fosfat akan mempercepat hilangnya fosfor dari daratan ke laut.sehingga membuat siklus fosfor menjadi kurang siklik lagi. Di samping itu kegiatan manusia tersebut dapat menimbulkan pencemaran udara dan air di sekitarnya.
Unsur fosfor adalah satu-satunya unsur yang paling rawan sebagai makronutrien, sedangakan penggunaan fosfor baik dalam siklusnya sendiri maupun dalam kegiatan manusia relatif lebih besar.

Nurjannah (dalam Moore, 1985), menyatakan bahwa nilai kritis fosfat bagi perkembangan populasi algae adalah pada kosentrasi 0,55 mg/atom P/m3. Sedang Lund (1969), menyatakan agar kualitas air tetap baik, maka sebaiknya kandungan fosfat dalam perairan tidak lebih dari 50 ppm P2O5. Apabila kandungan fosfat melebihi kebutuhan normal organisme nabati, maka akan terjadi keadaan yang lewat subur. 1969), menggolongkan kesuburan perairan seperti yang terlihat dalam table.



DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2002. Penuntun Praktikum Kima Oceanografi, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin, Makassar.
Nurjannah, 1985. Tingkat Kandungan Fosfat di Perairan Mamuju. Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (Skripsi) , Ujung Pandang.
Romimohtarto, K. Dan Sri Juwana. 1999. Biologi Laut. Pusat Penenlitian dan Pengembangan Oseanologi – LIPI, Jakarta.
Sumawijaya. 1974. Metode Penelitian Air.Usaha Nasional. Surabaya.
Telesession 1, 1997. Ekologi Dasar. Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Makassar. Indonesia Bagian Timur.

2 komentar: