Fish

Senin, 28 Februari 2011

FOSFAT

Fosfat merupakan fosfat anorganik sebagai salah satu bentuk fosforos terlarut dalam air. Bentuk lain phosphorus adalah phospat organik yang sering disebut Polifosfat atau Metaposfat. Orto-fosfat terlarut terdiri dari ion-ion H2PO4¬-, HPO42-, PO43-. Orto-fosfat dalam perairan terdapat dalam jumlah yang kecil, yang meruapakan faktor pembatas bagi produktivitas perairan dalam. Orto-fosfat merupakan unsur hara yang realatif langka diperairan sehingga merupakan faktor pembatas bagi proses fotosintesis. Ketersediaannya tidak hanya ditentukan oleh jumlah total fosfat, namun banyak dipengaruhi derajat keasaman dan kadar Ca sebagai penentu kelarutan fosfat dalm bnetuk Orto-fosfat. Orto-fosfat adalah bentuk fosporus yang dapat langsung dimanfaatkan oleh organisme nabati (fitoplankton dan tumbuahan air).
Konsentrasi orto-fosfat dalam air dapat berkurang karena penyerapan fitoplankton (jasad nabati) dan bakteri serta adanya penyerapan oleh lumpur dasar akibat kelebihan ion kalsium pada pH tinggi atau ion besi dan ion aluminium pada pH rendah (Anonim, 2002).
Unsur fosfat sama halnya dengan unsur lain yang terkandung di dalam air laut. Unsur ini juga sangat penting untuk pembentukan protein dan metabolisme sel organisme. Hal ini dijelaskan oleh Sumawijaya (1974), bahwa fosfor sangat dibutuhkan dalam transport energi pada sel dan terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit, sehingga fosfor sering merupakan faktor pembatas bagi produktifitas perairan.
Sedimen berpengaruh terhadap ketersediaan fosfor di daerah perairan. Proporsi fosfor yang tinggi dalam massa air akan berkurang oleh adanya penyerapan ke dalam mineral sedimen. Satu fraksi menyerap ke dalam keadaan anionic dan lainnya ke dalam struktur kisi kristal dengan menggantikan ion-ion hidroksil. Faktor utama yang mengatur proses ini adalah kemampuan oksidasi reduksi, nilai-nilai pH dan kepekatan zat-zat lainnya.
Sedangkan fosfor terdapat di laut dalam berbagai keadaan. Sebagian terdapat dalam senyawa organik seperti protein dan gula, seabgian dalam butiran-butiran kalsium fosfat (CaPO4) dan besi fosfat (FePO4) anorganik, dan sebagian terlarut sebagai fosfat organik. Yang terakhir ini terdapat terbanyak di air laut, dapat mencapai 90 % dari seluruh fosfor di laut, terutama pada saat produksi bahan organik tinggi dan penyerapan rendah. Sebaliknya jika produktivitas laut tinggi adar fosfat anorganik rendah, mencapi kurang dari 50 % dari seluruh fosfor.
Ortophosfor adalah senyawa fosfat anorganik yang teramat berlimpah dalam daur fosfor. Senyawa ini dihasilkan oleh proses pemecahan fosfat organik oleh bakteri dari jaringan yang sedang membusuk. Ini merupakan proses yang realatif sederhana dan mudah, karenanya terjadi sangat sering di dalam kolom air, sehingga menyediakan fosfor untuk diserap oleh tumbuh-tumbuhan. Jadi meskipun fosfor kadarnya jauh di bawah nitrogen, tetapi unsur ini di dalam keadaan mudah diperoleh dari mintakat tembus cahaya matahari. Karena itu fosfor tidak merupakan faktor pembatas dalam produktivitas laut.
Dalam daur fosfor banyak interaksi yang terjadi antara tumbuh-tumbuhan dan hewan, antara senyawa organik dan anorganik dan antara kolom air dan permukaan sera substrat. Misalnya antara beberapa jenis hewan membebaskan sejumlah besar fosfor terlarut dalam kotorannya. Fosfor ini kemudian terkarut dalam air sehingga tersedia bagi tumbuh-tumbuhan. Sebagian senyawa fosfat anorganik mengendap sebagai mineral kedasar laut.
Kadar rata-rata fosfat dalam laut adalah 70 mikrogram/L atau (0,07 ppm). Tetapi keragaman yang besar dari nilai rata-rata ini terjadi, terutama dekat permukaan laut, dimana nilai-nilai fosfor rendah. Pola sebaran kadar fosfor dalam seluruh kolom air serupa untuk semua samudra, baik samudara Atlantik, Hindia, maupun Pasifik. Namun kadar fosfor keseluruhan di Samudara Atlantik jauh lebih rendah dari pada di kedua samudra lainnya. Jika ditinjau dari kejelukan, sebaran menegak fosfor dapat dikelompokkan menjadi tiga lapisan. Lapisan permukaan mengandung kadar fosfor yang minimal karena penyerapan yang tinggi akibat tingginya produksi organik. Di lapisan kedua, yang mencapai beberapa ratus meter jeluknya kadar fosfor menaik dengan cepat, karena penyerapan unsur kimia ini mengurang disebabakan oleh berkurangnya kegiatan pembentuakn zat oragnik dan karean di alpisan ini pelepsan fosfor melalui proses pembusukan mulai. Pada lapisan ketiga di bawahnya yang mecapai kejelukan antara 500-1000 m, kadar fosfor maksimal, kemudian ada penurunan kadar fosfor pada lapisan dasar laut yang pekat (Romimohtarto, K. dan Sri Juwana, 1999).
Sedangkan menurut Telesession 1 (1997) menyatakan bahwa fosfor dalam protoplasma cenderung beredar setelah terpecah dari bahan organik menjadi fosfat (PO4-) yang kemudain digunakan lagi oleh tumbuhan. Sumber fosfat terbesar berasal dari batuan dan endapan geologi yang berbentuk selama proses grologi. Endapan-endapanini sedikit demi sedikit tererosi sehingga fosfat terlepas dan masuk ke dalam ekosistem. Akan tetapi sebagian besar fosfat diendapkan di dasar laut. Kecepatan penggunaan fosfat dari laut ke daratan jauh di bawah kecepatan fosfor yang mengalir ke laut.
Walaupun pengambilan ikan dari laut oleh manusia dan peranan burung-burung yang dapat mengembalikan fosfor dari laut ke daratan namun hal ini belum mampu mengimbangi kehilangan fosfor tersebut. Kegiatan manusia melalui penambangan fosaft dan industri pengolahn pupuk fosfat akan mempercepat hilangnya fosfor dari daratan ke laut.sehingga membuat siklus fosfor menjadi kurang siklik lagi. Di samping itu kegiatan manusia tersebut dapat menimbulkan pencemaran udara dan air di sekitarnya.
Unsur fosfor adalah satu-satunya unsur yang paling rawan sebagai makronutrien, sedangakan penggunaan fosfor baik dalam siklusnya sendiri maupun dalam kegiatan manusia relatif lebih besar.

Nurjannah (dalam Moore, 1985), menyatakan bahwa nilai kritis fosfat bagi perkembangan populasi algae adalah pada kosentrasi 0,55 mg/atom P/m3. Sedang Lund (1969), menyatakan agar kualitas air tetap baik, maka sebaiknya kandungan fosfat dalam perairan tidak lebih dari 50 ppm P2O5. Apabila kandungan fosfat melebihi kebutuhan normal organisme nabati, maka akan terjadi keadaan yang lewat subur. 1969), menggolongkan kesuburan perairan seperti yang terlihat dalam table.



DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2002. Penuntun Praktikum Kima Oceanografi, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin, Makassar.
Nurjannah, 1985. Tingkat Kandungan Fosfat di Perairan Mamuju. Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (Skripsi) , Ujung Pandang.
Romimohtarto, K. Dan Sri Juwana. 1999. Biologi Laut. Pusat Penenlitian dan Pengembangan Oseanologi – LIPI, Jakarta.
Sumawijaya. 1974. Metode Penelitian Air.Usaha Nasional. Surabaya.
Telesession 1, 1997. Ekologi Dasar. Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Makassar. Indonesia Bagian Timur.

KLOROFIL-a

Cahaya matahari yang sampai ke bumi adalah cahaya putih yang terdiri atas gelombang dengan panjang gelombang yang berbeda-beda tersusun berurutan dimulai dari cahaya merah dengan panjang gelombang yang relatif panjang hingga ke cahaya ungu dengan panjang gelombang yang lebih pendek.
Apabila cahaya matahari ini mengenai daun tumbuhan hijau, sebagian gelombang cahaya diserap oleh daun, sebagian ditransmisikan (menembus daun), dan sebagian lagi dipantulkan kembali. (Horas, 1997).
Di antara panjang gelombang yang diserap daun, yang banyak diserap adalah merah, biru, dan violet. Sedangkan yang diserap sebagian adalah kuning, jingga, dan hijau hampir tidak diserap sama sekali (dipantulkan kembali). Oleh karena gelombang hijau dipantulkan kembali maka dapat melihat daun berwarna hijau.
Meskipun cahaya menunjukkan sifat gelombang namun cahaya diserap sebagai partikel yang disebut foton. Satu foton adalah satu satuan energi minimum yang dikeluarkan yang dikeluarkan oleh suatu molekul, misalnya matahari atau filamen lampu yang bergerak dengan kecepatan 3 x 1010 cm per detik.
Berdasarkan kimia ini dapat diketahui bahwa molekul terdiri atas atom yang mempunyai inti yang bermuatan positif dan suatu atmosfer elektron yang berputar pada orbit (posisi) tertentu. Jika hendak memindahkan posisi elektron dari orbit dalam ke orbit yang lebih luar diperlukan energi. Sebaliknya pemindahan elektron dari orbit luar ke orbit dalam dilepaskan (dibebaskan) energi.
Apabila cahaya matahari mengenai daun hijau, gelombang cahaya yang diserap (partikel foton yang diserap) daun akan membentur molekul-molekul klorofil. Benturan partikel foton pada molekul klorofil menyebabkan elektron atom klorofil pindah dari orbit dalam ke orbit luar yang lebih jauh dari inti atomnya, dapat dikatakan bahwa atom klorofil telah mengikat energi atau atom klorofil dalam keadaan teresitasi. Atom yang tereksitasi menjadi lebih berenergi. Menurut Weisz, lama atom dalam keadaan tereksitasi lebih kurang 10-10 detik. Atom yang tereksitasi dalam keadaan yang tidak stabil, akan segera kembali kepada kedudukan (orbit) semula dan mengakibatkan energi yang diikat dilepaskan.
Ketika, energi dilepaskan kembali oleh atom klorofil yang tereksitasi terjadi proses penguraian (pemecahan) air. Dengan energi tersebut molekul H2O diuraikan seperti berikut.

Energi cahaya
Klorofil ---------------> 2H2O energi 2H2 + O2

Klorofil tereksitasi

Menurut Jeffrey (1975), Kemampuan potensial suatu perairan untuk menghasilkan sumber daya alam hayati ditentukan oleh kandungan produktivitas primernya yakni banyaknya zat organik yang dapat dihasilkan dari zat-zat organik melalui proses fotosintesis dalam satuan waktu dan volume air tertentu.
Di alam proses fotosintesis hanya terjadi pada tumbuhan yang mengandung klorofil. Di laut fitoplanton mengandung peranan penting sebagai produsen primer karena merupakan komponen utama yang mengandung klorofil.
Pengetahuan mengenai kandungan klorofil fitoplanton di suatu perairan apabila dilengkapi dengan cahaya dapat dipergunakan untuk menghitung produktifitas primernya dengan demikian kandungan klorofil fitoplanton dapat dijadikan petunjuk akan kesuburan suatu perairan.
Klorofil mempunyai peranan essnsial dalam proses fotosintesis yaitu suatu proses yang merupakan dasar dari produksi zat-zat organik dalam alam. Faktor-faktor yang menyebabkan klorofil melakukan sintesis adalah air, cahaya, oksigen, karbohidrat, nitrogen, magnesium, besi, dan unsur-unsur lainnya (Mn, Cu, dan Zn).
Pengukuran kadar klorofil masih relatif belum banyak dilakukan, mengingat pentingnya klorofil dalam oseanologi maka selanjutnya terdapat metode pengukuran yang praktis dan mudah dilakukan.
Metode penentuan klorofil ini didasarkan pada penyerapan pada tiga panjang gelombang (trichometric) yang masing-masing merupakan penyerapan maksimum untuk klorofil a, b dan c dalam pelarut aseton.
Untuk menghitung kandungan klorofil absorbansi dari panjang gelombang yang diukur (664, 647, dan 630 nm) dikurangi dengan absorbansi pada panjang gelombang 750 nm. Pengurangan absorbansi pada masing-masing panjang gelombang tersebut dengan absorbansi pada panjang gelombang 750 nm dimaksudkan untuk mendapatkan nilai absorbansi yang dilakukan oleh klorofil, karena pada panjang gelombang 750 nm tidak terdapat penyerapan yang dilakukan oleh klorofil (hanya faktor kekeruhan sampel). (Hutagalung, 1997).
Proses fotosintesis di dalam perairan hanya dapat berlangsung bila ada energi (cahaya) yang sampai pada kedalaman tertentu dimana fitoplankton berada. Kedalaman penetrasi cahaya dalam perairan yang merupakan kedalaman dimana proses fotosintesis dapat berlangsung bergantung pada beberapa factor, antara lain absorbsi cahaya oleh air, panjang gelombang cahaya, kecerahan air, pemantulan cahaya oleh permukaan, lintang geografik dan musim (Nybakken, 1998).
Pengetahuan mengenai kandungan klorofil fitoplankton di suatu perairan apabila di lengkapi dengan data cahaya dapat digunakan untuk menghitung produktivitas primer perairan. Dengan demikian kandungan klorofil fitoplankton dapat dijadikan sebagai petunjuk pencemaran suatu perairan (Nonjti, A.,1974).

Klorofil terbagi tiga yaitu klorofil a, b, dan c. Klorofil a terdiri dari kurang lebih 1-2 % berat kering berat kering bahan organic dari alga plankton dan merupakan pigmen yang dominan jumlahnya dibandingkan dengan klorofil b dan c. Selanjutnya dikatakan bahwa seluruh data klorofil-a di permukaan dikelompok dalam tiga kategori (grup) yaitu rendah, sedang dan tinggi dengan kandungan klorofil-a secara berurut < 0.07, 0.07-0.14 dan > 0.14 mg/m3 (Hatta, 2002).
Dalam melakukan proses fotosintesis, ada beberapa factor yang sangat mempengaruhi salah satunya yaitu ada tidaknya cahaya matahari dan kandungan pigmen klorofil pada tumbuhan tersebut. Dalam perairan klorofil memegang peranan yang sangat penting dalam proses fotosintesis yakni suatu proses yang merupakan dasar dari produksi zat-zat organik dalam alam. Proses fotosintesis secara sederhana dapat di gambarkan dengan persamaan reaksi sebagi berikut (APHA, 1992):

6 CO2 + 6 H2O ------>uv+klorofil-------->C6H12O6 + 6O2

Dari reaksi diatas tampak jelas bahwa adanya karbondioksida dan air dengan bantuan cahaya matahari dimanfaatkan oleh klorofil untuk membentuk glukosa dan oksigen. Selain itu klorofil mudah melakukan sintesis karena adanya air, cahaya, karbohidrat, nitrogen, magnesium, besi, dan unsure lainnya sebagai factor yang mempengaruhi proses sintesis ini (APHA, 1992).
Menurut Hatta, (2002) sebaran klorofil dalam perairan berkaitan erat dengan parameter oseanografi. Pengaruh parameter oseanografi terhadap sebaran klorofil berbeda berdasarkan kedalaman perairan. Kedalaman tercampur dan lapisan termoklin berkaitan dengan sebaran vertical dan horizontal klorofil.
Pengukuran kadar klorofil masih relatif belum banyak dilakukan, mengingat pentingnya klorofil dalam oseanologi maka selanjutnya terdapat metode pengukuran yang praktis dan mudah dilakukan.Metode penentuan klorofil ini didasarkan pada penyerapan pada tiga panjang gelombang (trichometric) yang masing-masing merupakan penyerapan maksimum untuk klorofil a, b dan c dalam pelarut aseton (Harborne, 1987).


DAFTAR PUSTAKA

APHA (American Public Health Association). 1992. Standar Metods For The Examinatin of Water and Wasie Water 18th Ed. Amer. Pulb. Health Association Washington DC.

Hatta, M. 2002. Hubungan antara klorofil-a dan Ikan Pelagis Dengan kondisi Oseanografi di Perairan Utara Irian jaya. Makala Falsafah Sains, Program Pasca Sarjana/S3 IPB : Bogor.

Harborne, J. B. 1987, Metode Fitokimia, ITB, Bandung.

Horas P. hutagalung. 1997. metode Analisa air laut, sedimen dan biota. Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi. LIPI. Jakarta.

Jeffrey. S.W dan Humphrey. 1975. New Spectrophotometric equations for Determining Chlorophylls a, b and c in Higler plants. Thsiol. Plancery.
Nontji, A 1974. Kandungan Klorofil pada Fitoplankton di laut Banda dan Seram. Oseonal. Di Indonesia 2 : 1.

Nybakken, 1998. Biologi Laut, Suatu Pendekatan Ekologis, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Ruther,J.H and C.S Yentsch. 1957. The Estimation of Phytoplankton produktion in the ocean from Chlorophyl and Light Data. Harvard. USA.

Minggu, 27 Februari 2011

KLORONITAS

Klorida adalah anion yang dominan diperairan laut. Sekitar 3/4 dari klorida (Cl2) yang terdapat dibumi berada dalam bentuk larutan. Unsur klor dalam air terdapat dalam bentuk ion klorida (Cl-). Ion klorida adalah salah satu anion anorganik utama yang ditemukan di perairan alami dalam jumlah lebih banyak daripada anion halogen lainnya. Klorida biasanya terdapat dalam bentuk senyawa natrium klorida (NaCl, kaliu klorida (KCl) dan kalsium klorida (CaCl2) (Effendi, 2000).
Jumlah klorin terikat dan klorin bebas di perairan merupakan residu total klorin (TRC). Penentuan TRC diperlukan dalam proses pengolahan air baku untuk keperluan domestik dan pengolahan limbah cair yang menggunakan klorin sebagai desinfektan, untuk mengetahui kadar klorin yang tersisa di perairan (Effendi, 2000).
Klorin sering digunakan sebagai desinfektan untuk menghilangkan mikroorganisme yang tidak dibutuhkan atau sering dikenal dengan istilah hama, terutama bagi air yang di peruntukkan bagi kepewntingan domestik. Beberapa alasan yang menyebabkan klorin sering digunakan sebagai desinfekatan. Klorin diperairan ada dua yaitu yang terikat dan yang bebas. Jumlah klorin terikat dan klorin bebas di perairan merupakan residu total klorin (Total Residu Chlorine/TRC). Penentuan TRC di perlukan dalam proses pengolahan air baku untuk keperluan domestik dan pengolahan limbah cair yang menggunakan klorin sebagai desinfektan, untuk mengetahui kadar klorin yang tersisa di perairan (Sastrawijaya, 1991)
Proses penambahan klor dikenal dengan istilah klorinasi. Klorin yang digunakan sebagai desinfektan adalah gas klor yang berupa molekul klor (Cl2) atau kalsium hipoklorit [Ca(Ocl)2}. Namun, penambahanklor secara kurang tepat akan menimbulkan bau dan rasa yang tidak enak atau menyengat pada air (Effendi, 2000).
Klorin diperairan ada dua yaitu yang terikat dan yang bebas. Jumlah klorin terikat dan klorin bebas di perairan merupakan residu total klorin (Total Residu Chlorine/TRC). Penentuan TRC di perlukan dalam proses pengolahan air baku untuk keperluan domestik dan pengolahan limbah cair yang menggunakan klorin sebagai desinfektan, untuk mengetahui kadar klorin yang tersisa di perairan (Sastrawijaya, 1991).
Keberadaan organisme laut pada suatu perairan, sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, baik biotik maupun abiotik. Faktor biotik yang berpengaruh diantaranya adalah produsen, yang merupakan salah satu sumber makanan bagi organisme laut. Adapun faktor abiotik adalah fisika-kimia air yang diantaranya: suhu, arus, oksigen terlarut (DO), kebutuhan oksigen biologi (BOD) dan kimia (COD), serta kandungan nitrogen (N), kandungan klorinitas (Cl), kedalaman air, dan substrat dasar. (Anderton, 1997).
Air laut terdiri dari susunan garam-garam mineral, yang kita bagi menjadi dua kelompok besar, yaitu komponen mayor mineral dan kelompok minor mineral. Yang apabila komposisi garam-garam ini sesuai standart, maka berat jenis air laut bila diukur adalah 35 per mil (1.025). Sehingga komposisi garam-garam dalam air laut ini akan bisa mempengaruhi kadar klorinitas di perairan (Anderton, 1997).
Salinitas merupakan ukuran bagi jumlah berbagai zat padat terlarut dalam suatu satuan volume air dan dinyatakan dalam permil. Salinitas didefenisikan sebagai jumlah seluruh zat yang larut dalam 1 kilogram air laut dengan anggapan bahwa seluruh karbonat dalam telah diubah menjadi oksida, semua briomida dan ionida daganti dengan klorida dan semua zat organik mengalami oksidasi yang sempurna (Koesbiono, 1980).
Ciri paling khas pada air laut yang diketahui oleh semua orang ialah rasanya yang asin.Hal ini disebabkan karena didalam air laut terlarut bermacam-macam garam, yang utama adalah garam ( NaCl ) yang sering disebut garam dapur. Garam dapur ini banyak diproduksi oleh masyarakat dengan cara penguapan. Selain garam-garam klorida, di dalam air laut terdapat pula garaam magnesium, kalsium, kalium, dan lain-lain sebagainya. Dalam literatur oseanologi kita sering mendengar kata-kata salinitas. Salinitas adalah jumlah berat semua garam yang terlarut dalam satu liter air, biasanya dinyatakan dengan satuan permil (o/oo) (Nontji, 2002).
Salinitas didefinisikan sebagai jumlah zat yang terlarut dalam satu kilogram air laut. Pada saat garam-garam hancur dalam air, ikatan antara atom-atom dan beberapa molekul hancur sebab interaksi antara kisi-kisi kristalnya dan molekul air kemudian garam-garam dihancurkan dalam air dalam bentuk elektrolit atom-atom atau molekul-molekul yang disebut ion (Hutabarat dan Evans ,1984).
Adapun cara untuk mengukur salinitas adalah dengan menggunakan salinometer baik dengan menggunakan salinometer manual atau dengan salinometer elektrik dimana alat ini memiliki ketelitian yang tinggi dibanding dengan alat yang lainnya selain itu juga telah dikembangkan alat untuk mengukur salinitas dari kedalaman tertentu yaitu STD (salinity temperature deepth) yaitu alat untuk mengukur salinitas dan suhu berdasarkan kedalaman (Nontjie. A, 2002).
Pada laut terbuka salinitas bervariasi dari 33 – 37‰ dengan nilai salinitas rata- rata 35‰. Untuk salinitas permukaan perairan Indonesia berkisar 30 - 35‰ dan pada umumnya menunjukkan kenaikan nilai dari barat ke timur. Perairan pantai (Coastal Water) memiliki nilai salinitas di bawah 32‰., hal ini terjadi karena pengenceran yang terjadi karena adanya sungai- sungai (Sastrawijaya, 1991).
Menurut teori, zat- zat garam pada air laut berasal dari dalam dasar laut melalui proses outgassing, yakni rembesan dari kulit bumi di dasar laut yang berbentuk gas ke permukaan dasar laut. Kadar ini tetap tidak berubah sepanjang masa. Salinitas ini ditentukan dengan mengukur klor yang takarannya adalah klorinitas, dengan rumus (Romimohtarto, 2001).
Salinitas pada berbagai tempat dilautan terbuka yang jauh dari daerah pantai variasinya sempit saja, biasanya antara 34 – 37 ppm, dengan rata-rata 35 ppm. perbedaan salinitas lautan di daerah tropik lebih tinggi karena evaporasi lebih tinggi, sedangkan pada lautan di daerah salinitas rendah evaporasi lebih rendah (Nybakken, 1998).
Pengkajian kualitas perairan dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti dengan analisis fisika dan kimia air serta analisis biologi. Untuk perairan yang dinamis, analisa fisika dan kimia air kurang memberikan gambaran sesungguhnya kualitas perairan, dan dapat memberikan penyimpangan-penyimpangan yang kurang menguntungkan, karena kisaran nilai-nilai peubahnya sangat dipengaruhi keadaaan sesaat, menyatakan bahwa dalam lingkungan yang dinamis, analisis biologi khususnya analisis struktur komunitas organisme laut, dapat memberikan gambaran yang jelas tentang kualitas perairan (Nybakken, 1992).

DAFTAR PUSTAKA
Anderton, J. D, dkk, 1997. Kimia Dasar. Jakarta : Balai Pustaka, 175 ha
Effendi, H. 2000. Telaah Kualitas Air. Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan FIKP, IPB. Bogor.
Koesbiono, 1980. Catatan Kuliah Biologi Laut. Fakultas Perikanan. IPB Bogor
Nybakken W James, 1988, Biologi Laut Suatu pendekatan Ekologis, PT. Gramedia, Jakarta.
Nontji, Anugerah. 2002. Laut Nusantara. Djambatan. Jakarta.
Romimohtarto, Kasijian dan Juwana Sri, 2001, Bilogi Laut: Ilmu Pengetahuan tentang Biota Laut, Djambatan, Jakarta.
Sastrawijaya T,1991. Pencemaran Lingkungan . Rineka Cipta. Surabaya

Rabu, 23 Februari 2011

OSEANOGRAFI FISIKA

Pasang Surut
Pasang surut merupakan peristiwa naik turunnya paras atau permukaan laut, yang diakibatkan oleh adanya gaya tarik antara planet-planet yang mempunyai suatu gerakan periodik, sehingga gaya yang akan terjadi pada bumi akibat gaya tarik tersebut besarnya berbanding terbalik sdengan kuadarat jarak dan berbanding langsung dengan masa-masanya (Haruna Mappa dan Kaharudin, 1991).
Pasang surut terutama disebabkan oleh adanya gaya tarik-menarik antara dua tenaga yang terjadi di lautan, yang berasal dari gaya sentrifugal yang disebabkan oleh perputaran bumi pada sumbunya dan gaya gravitasi yang berasal dari bulan. Cara yang paling mudah untuk menjelaskan tentang tenaga pembangkit pasang ini ialah dengan mengingat pengaruh-pengaruh mereka pada sebuah teori yang menganggap permukaan bumi ini secara keseluruhan tertutup oleh air. Proses pasang surut ini sangat berpengaruh terhadap arus yang ada. Pada saat pasang akan terjadi arus yang menuju pantai sedangkan pada saat surut arus cenderung untuk menjauhi pantai (Sahala Hutabarat dan Stewart M. Evans, 1984).
Jenis dan sifat pasang surut yang terjadi di permukaan bumi sangat bervariasi. Hal ini disebabkan karena faktor topografi yang sangat bervariasi, terutama di daerah kepulauan dengan selat-selat sempit dan terjal akan nampak suatu suatu pasang surut yang berbeda di laut lepas.
Pasang surut menurut Sahala Hutabarat dan Stewart M. Evans (1984) dapat dikenal tiga jenis yaitu :
 Diurnal Tide, yaitu pasang surut tunggal terjadi apabila dalam waktu 24 jam terjadi dua kali air tinggi dan sekali air rendah.
 Semi Diurnal Tide, yaitu pasang surut ganda yang terjadi apabila dalam waktu 24 jam terjadi dua kali air tinggi dan dua kali air rendah.
 Mixed Tide, yaitu pasang surut camparan terjadi terjadi apabila dalam waktu 24 jam terdapat kedudukan air tinggi dan rendah tidak teratur.
Pasang surut tertinggi dan terendah dari kedudukan air terjadi pada saat bulan purnama. Hal ini terjadi karena kondisi posisi bulan atau matahari dan bumi pada suatu garis lurus, sehingga dapat terjadi penyatuan arah gaya tarik terhadap bumi dan pasang terendah dan surut terkecil dapat terjadi pada bulan seperempat dan tiga perempat. Pasang surut muka air laut akan sangat dirasakan di daerah pantai tetapi pengaruhnya akan keci sekali bahkan tidak ada bila berada di laut lepas (Haruna Mappa dan Kaharudin, 1991)

Karakteristik Pasang Surut

Sumber : Suyarso dalam Ongkosongo dan Suyarso (1989)

Gelombang
Gelombang merupakan gerakan air secara osilasi dengan permukaan naik turun serta mempunyai panjang, tinggi, periode, kecepatan, energi dan lain-lain. Gelombang timbul akibat pengaruh dari angin, gempa bumi, gunung api bawah laut, longsoran dan aktivitas manusia lainnya (Haruna Mappa dan Kaharudin, 1991).
Berdasarkan kedalaman laut Haruna Mappa dan Kaharudin, 1991 membagi gelombang dalam dua jenis yaitu :
a) Gelombang laut dangkal adalah gelombang yang panjang gelombangnya jauh lebih besar dari pada kedalaman air.
b) Gelombang laut dalam adalah gelombang yang panjang gelombangnya lebih kecil dibandingkan dengan kedalam perairan tersebut.
Haruna Mappa dan Kaharudin (1991), berpendapat gelombang yang tiba di pantai akan memperlihatkan bagian-bagian yaitu ;
1. Shoaling wave zone yaitu zona pendangkalan gelombang.
2. Breaker zone yaitu zone pecahnya gelombang sebelum tiba di darat.
3. Surf zone adalah zona setelah gelombang pecah.
4. Swash yaitu gelombang tiba di darat.
5. Back swash yaitu hempasan gelombang di darat kembali kelaut.
Gelombang laut sangat berpengaruh terhadap peristiwa abrasi. Gelombang merupakan faktor utama yang menyebabkan pengikisan pantai. Gelombang ini akan lebih dirasakan pengaruhnya diperairan dangkal bila dibandingkan dengan perairan dalam. Di perairan dalam proses abrasinya sangat rendah, hal ini disebabkan karena gelombang tersebut hanya berpengaruh didaerah permukaan saja (Haruna Mappa dan Kaharudin, 1991).
Gelombang selalu menimbulkan sebuah ayunan air yang bergerak tanpa henti-hentinya pada lapisan permukaan laut dan jarang dalam keadaan sama sekali diam. Hembusan angin sepoi-sepoi pada cuaca yang tenang sekalipun sudah cukup untuk dapat menimbulkan riak gelombang. Sebaliknya dalam keadaan dimana terjadi badai yang besar dapat menimbulkan suatu gelombang yang besar yang dapat menimbulkan kerusakan hebat pada kapal-kapal dan daerah-daerah pantai. Gelombang merupakan salah satu penyebab yang berperan dalam pembentukan pantai. Gelombang yang terjadi di perairan laut dalam pada umumnya tidak berpengaruh terhadap dasar laut dan sedimen yang terdapat di dalamnya. Sebaliknya, gelombang terdapat di daerah pantai, terutama di daerah pecahan gelombang mempunyai energi yang besar dan sangat berperan dalam pembentukan morfologi pantai, seperti menyeret sedimen (umumnya pasir dan keril) yang ada di dasar laut untuk ditumpukkan dalam bentuk gosong pasir (Dahuri, 1996).
Apabila kita melihat gelombang di lautan, kita mendapat suatu kesan seolah-olah gelombang ini bergerak secara horizontal dari satu tempat ke tempat lain, yang kenyataannya tidaklah demikian. Suatu gelombang membentuk gerakan maju melintasi permukaan air, tetapi disana sebenarnya terjadi hanya suatu gerakan kecil ke arah depan dari massa air itu sendiri. Hal ini akan lebih mudah jika kita melihat sepotong gabus atau benda-benda yang terapung lainnya diantara gelombang-gelombang di lautan bebas. Potongan gabus tersebut akan tampak timbul dan tenggelam sesuai dengan gerakan berturut-turut dari puncak (crest) dan lembah gelombang (trough) yang lebih atau kurang, tinggal pada tempat yang sama. Gerakan individu partikel-partikel air di dalam gelombang sama dengan gerakan potongan gabus , walaupun dari pengamatan yang lebih teliti menunjukkan bahwa ternyata gerakan ini lebih kompleks dari gerakan yang hanya sekedar naik dan turun saja. Gerakan ini adalah suatu gerakan yang membentuk sebuah lingkaran bulat. Gabus atau pertikel-partikel lain yang diangkut ke atas akan membentuk setengah lingkaran dan begitu sampai di tempat tertinggi ini merupakan crest (puncak gelombang). Kemudian benda-benda ini akan di bawa ke bawah membentuk lingkaran penuh, melewati tempat yang paling bawah yang bernama trough (lembah gelombang). Namun demikian gelombang-gelombang di lautan hanya terjadi sebatas di permukaan air yang terletak di bagian paling atas.
Sifat-sifat gelombang dipengaruhi oleh tiga bentuk angin, yaitu : kecepatan angin, Waktu dimana angin sedang bertiup dan jarak tanpa rintangan dimana angin sedang bertiup (dikenal sebagai fetch) (Hutabarat, 1984).
Setiap gelombang memepunyai tiga unsur yang penting yaitu, panjang, tinggi, dan period. Panjang gelombang adalah jarak mendatar antara dua puncak yang berurutan, tinggi gelombang adalah jarak menegak anatar puncak dan lembah, sedangkan period gelombang adalah waktu yang diperlukan oleh dua puncak yang berurutan melalui satu titik (Nontji, 1993).
a. Panjang Fetch
Fetch adalah daerah yang mempunyai kecepatan dan arah angin yang konstan, sedangkan yang dimaksud dengan Fetch Length atau jarak Fetch adalah jarak tanpa rintangan ketika angi sedang bertiup, atau dapat dikatakan bahwa jarak fetch adalah merupakan jarak dari sumber pembangkit gelombang (Hutabarat dan Evans, 1984).
Sifat-sifat gelombang yang diukur tidak hanya bergantung kepada komponen-komponen Spektral yang dibangkitkan dalam arah yang mempunyai sudut terhadap arah angin. Hal-hal yang menjadi pembatas dari fetch adalah garis pantai pantai yang berhadapan dengan arah datang gelombang dan arah angin yang selalu berganti-ganti.
b. Angin
Nyibaken (1988), menyatakan bahwa gelombang terbesar biasanya terjadi pada laut terbuka, dimana angin dapat bertiup melalui jarak tempuh yang sangat jauh, setelah gelombang keluar dari daerah badai, maka tingginya berangsur-angsur berkurang dan sementara gelombang itu bergulung-gulung ke darat, dan ketika gelombang memasuki peraioran dangkal dan mulai mengalami hambatan gesekan dari dasar perairan, gerakan maju dari gelombang akan terhambat dan panjang gelomabng akan berkurang, akibatnya tinggi gelombang meningkat dan menjadi makin terjal..

Akibat adanya perbedaan tekanan udara inilah terjadi gerakan udara, yaitu dari tekanan tinggi ke tekanan yang rendah yang disebut angin. Angin yang berhembus di atas permukaan air akan memindahkan energinya ke air. Kecepatan angin akan menimbulkan tegangan pada permukaan laut, sehingga air yang semula tenang akan terganggu dan riak akan timbul. Apabila kecepatan angin bertambah maka riak ini semakin besar, begitupun apabila berhembus terus maka akan terbentuk ombak. Semakin lama dan semakin kuat angin berhembus maka semakin besar ombak terbentuk.
Tinggi dan periode ombak yang dibangkitkan oleh angin meliputi kecepatan angin, lama berhembus, arah angin, dan fetch. Fetch adalah daerah dimana kecepatan dan arah angin konstan. Arah angin dianggap konstan apabila perubahan-perubahannya tidak lebih dari 150. Sedangkan kecepatan angin masih dianggap konstan jika perubahannya tidak lebih dari 5 knot (Triatmodjo, 1999).
Angin yang berhembus dengan kecepatankurang dari 3 km per jam di atas air, akan membangkitkan ombak yang kecil. Sebaliknya bila kecepatan lebih dari 3 km per jam, ombak akan terbangkit lebih besar dan akan merambat sesuai dengan arah pergerakan dari angin (Kramadibrata, 1985).
Bila sebuah gelombang pecah, airnya akan dilemparkan jauh kedepan sampai mencapai daerah pantai dan beberapa di antaranya akan kembali ke laut mengalir sebagai arus yang berada di bawah permukaan. Jika kita melihat gelombang di lautan, maka seolah-olah gelombang itu bergerak secara horizontal dari satu tempat ke tempat yang lain. Namun, kenyataan tidaklah demikian. Suatu gelombang membentuk gerakan maju melintasi gerakan angin, tetapi di sana sebenarnya terjadi hanya satu gerakan kecil kearah depan dari massa air itu sendiri. Gerakan ini adalah suatu gerakan yang membentuk sebuah lingkaran bulat. Namun demikian gelombang di lautan sebatas pada lapisan permukaan air yang paling atas. Di dalam suatu gelombang gerakan partikel akan berkurang makin lama makin lambat sesuai dengan dalamnya suatu perairan (Hutabarat dan Evans, 1993).
c. Transformasi Gelombang
Jika suatu muka barisan gelombang datang membentuk sudut miring terhadap tepi pantai yang mempunyai kemiringan dasar landai dengan kontur-kontur kedalaman sejajar dengan pantai, maka muka gelombang akan berubah arah dan cenderung menjadi sejajar dengan garis pantai atau mengalami proses pembiasan (refraksi). Selanjutnya arah perambatan berangsur berubah dengan berkurangnya kedalaman (shoaling), sehingga dapat diamati bahwa muka gelombang cenderung sejajar dengan kedalaman. Hal ini disebabkan perubahan bilangan gelombang yang mengakibatkan perubahan kecepatan fase gelombang. Bila keadaan pantai landai, ada kemungkinan bahwa gelombang tersebut tidak pecah tetapi pemantulan ombak (refleksi).
Arah dari perambatan dapat juga berubah atau mengalami pelenturan, ketika gelombang melewati perairan dengan kedalaman air yang konstan, seperti ketika gelombang menuju kesuatu pulau atau pemecahan gelombang. Pola difraksi/pelenturan dapat diamati bila suatu gelombang melewati suatu tanjung atau ujung sebuah tanggul buatan, maka gelombang akan mengalami pemanjangan puncak secara melengkung kearah sisi belakang tanjung atau tanggul perintang tersebut. Peristiwa ini terjadi karena perembesan energi kedalamam bayang-bayang yang merupakan daerah aliran tenang dibelakang tanggul atau tanggul perintang. Gejala ini disebut dengan difraksi gelombang.
Dari hasil penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa selama gelombang menjalar dari perairan dalam keperairan menengah dan selanjutnya keperairan dangkal akan mengalami transformasi dari pada sifat-sifat dan parameter-parameter gelomnbang sepenti proses refraksi, shoaling, refleksi maupun difraksi. Selama penjalaran tersebut, periode dinggap konstan. Tinggi ombak mula-mula menurun di perairan menengah dan dangkal namun tiba-tiba pada perairan yang sangat dangkal tinggi gelombang membesar sampai terjadi pecah.
Gelombang menjadi tidak stabil (pecah) jika terlampau curam atau tinggi gelombangnya mencapai batas tertentu. Tipe-tipe gelombang pecah dapat dikategorikan menjadi 4 bagian yaitu : spelling, pluinging, surging dan collapsing. Spelling terjadi pada pantai yang datar (kemiringan kecil) dimana gelombang dimulai pecah pada jarak yang cukup jauh dari pantai dan pecahnya terjadi berangsur-angur. Pluinging terjadi apabila kemiringan gelombang dan dasar bertambah, gelombang akan pecah dan puncak gelombang akan memutar dengan masa air pada puncak gelombang akan terjun kedepan. Surging terjadi pada oantai dengan kemiringan yang sangat besar seperti pada pantai berkarang. Sedangkan colapsing merupakan kombinasi dari pluinging dan surging (Triatmodjo, 1999).
Menurut Triatmodjo (1999) ditinjau dari profil pantai, daerah kearah pantai dari garis gelombang pecah dibagi menjadi tiga daerah yaitu inshore, foreshore dan backshore
Arus
Arus adalah gerakan air yang mengakibatkan perpindahan horizontal massa air. Sistem arus laut utama dihasilkan oleh beberapa daerah angin secara terus menerus, berbeda satu sama lain dengan berubah-ubah. Arus ini juga mempengaruhi penyebaran organisme laut dan juga menentukan pergeseran daerah biogeografi melalui perpindahan air hangat ke daerah yang lebih dingin dan sebaliknya. Angin dapat mendorong bergeraknya air permukaan, menghasilkan suatu gerakan arus horizontal yang lamban yang mampu mengangkut suatu volume air yang sangat besar melintasi jarak jauh dilautan (Nybakken, 1992).
Arus permukaan merupakan perceminan langsung dari pola angin. Jadi arus permukaan digerakkan oleh angin dan air dilapisan bawahnya ikut terbawa. Karena disebabkan oleh adanya gaya coriolis yaitu gaya yang di sebabkan oleh perputaran bumi (Romimohtarto dan Juana, 2002).
Arus dibagi menjadi arus permukaan dan arus musiman upweling. Arus permukaan utama yang ada di permukaan bumi terdiri atas :
1. Arus yang benar -benar mengelilingi daerah kutup selatan ( Antartic Circumpolar Current ) yang terdapat pada letak lintang 60º lintang selatan.
2. Aliran air di daerah ekuator yang mengalir dari arah barat ke timur tetapi mereka dibatasi oleh arus-arus sejajar yang mengalir dari timur ke barat, baik dari belahan bumi utara maupun di balahan bumi selatan.
3. Arus-arus yang berputar di daerah sub tropikal yang disebut gyre. Yang mengalir searah jarum jam dari belahan bumi utara dan berlawanan jarum jam yang berasal dari belahan bumi selatan.
Faktor – faktor pembangkit arus permukaan adalah sebagai berikut (Hutabarat dan Evans, 1985):
1. Bentuk topografi dasar lautan dan pulau - pulau yang ada disekitarnya. Beberapa sistem lautan utama di dunia di batasi oleh massa daratan dari tiga sisi dan oleh arus ekuatorial counter dari sisi ke empat. Batas-batas ini menghasilkan aliran yang hampir tertutup dan cenderung membuat aliran air mengarah dalam bentuk bulatan.
2. Gaya coriolis dan arus ekman.
Gaya coriolis mempengaruhi aliran massa air dimana gaya ini akan membelokkan arah mereka dari arah yang lurus. Gaya ini timbul sebagai akibat dari perputaran bumi pada porosnya.
3. Perbedaan tekanan.
Pada umumnya air di daerah tropik dan sub tropik lebih tinggi daripada daerah kutub. Walaupun perbedaan ini kecil, namun dapat menyebabkan timbulnya perbedaan tekanan air yang berakibat air akan mengalir dari daerah yang bertekanan tinggi ke daerah yang bertekanan rendah.
4. Perbedaan densitas.
Gerakan air yang luas dapat diakibatkan oleh perbedaan densitas dari lapisan lautan yang mempunyai kedalaman berbeda-beda perbedaan ini timbul terutama diakibatkan oleh perbedaan suhu dan salinitas.
Angin mendorong bergeraknya air permukaan, menghasilkan suatu gerakan arus horizontal yang lamban dan mampu mengangkut suatu volume air yang sangat besar melintasi jarak jauh di lautan.Arus-arus ini mempengaruhi penyebaran organisme laut dan juga menemukan pergeseran daerah biogeografis melalui pemindahan air hangat ke daerah yang lebih dingin atau sebaliknya. Pergerakan air yang cukup besar dapat menunjang proses fotosintesis karena dapat memperlancar proses difusi (Dahuri,1996).

Kecerahan
Kecerahan air merupakan ukuran kejernihan suatu perairan. Semakin tinggi kecerahan suatu perairan, maka semakin dalam cahaya menembus ke dalam air. Kecerahan air menentukan ketebalan lapisan produktif. Berkurangnya kecerahan air akan mengurangi kemampuan fotosintesis dari tumbuhan air, selain itu dapat pula mempengaruhi kegiatan fisiologi biota air, dalam hal ini masuknya bahan-bahan ke dalam suatu perairan terutama yang berupa suspensi dapat mengurangi kecerahan air. Hal ini sesuai dengan pendapat Kuhl (1974) bahwa cahaya salah satu faktor yang mempengaruhi kelimpahan vegetasi perairan, cahaya berfungsi sebagai sumber energi untuk proses fotosintesis.
Kecerahan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, absorbsi cahaya oleh air, panjang gelombang cahaya, pemantulan cahaya oleh permukaan air, geografis, kekeruhan, warna air dan musim. Kecerahan erat kaitannya dengan kekeruhan, karena kemampuan cahaya untuk menembus lapisan perairan dipengaruhi oleh kekeruhan air. Kecerahan dapat berpengaruh pada biota laut maupun dalam perkembangna obyek wista selam di suatu daerah
Lokasi perairan harus jernih sepanjang tahun, terhindar dari akibat sedimentasi atau instrusi air sungai. Kejernihan air diukur dengan penampakan kecerahan yang mencapai kedalaman 5 m atau lebih. Perairan yang subur dan produktif ditandai dengan adanya plankton, air berwarna hijau atau abu-abu coklat. Sedangkan perairan yang berwarna kehitaman biasanya menunjukkan tingginya kandungan bahan organik yang terurai ddan hal ini mengganggu kecerahan perairan (Sulistijo dkk., 1996).

Suhu
Suhu dilautan adalah salah satu faktor yang amat penting bagi kehidupan organisme dilautan, karena suhu mempengaruhi aktivitas metabolisme maupun perkembangan dari organisme. Oleh karena itu tidak mengherankan jika banyak dijumpai bermacam macam jenis hewan yang terdapat diberbagai tempat di dunia (Hutabarat dan Evans, 1985).
Kisaran suhu yang normal untuk pertumbuhan organisme dilautan adalah berkisar antara 25º - 30º C, namun ada juga organisme yang bisa beradaptasi terhadap perubahan suhu sampai dibawah 10º C (Gossary, 2002).
Sejak sinar matahari yang diserap oleh lapisan permukaan laut, maka lapisan ini cenderung untuk relatif panas sampai kedalaman 200 m. pada lapisan kedalaman antara 200 - 1000 m suhu turun secara mendadak yang membentuk sebuah kurva dengan lereng yang tajam yang dikenal sebagai termokline dimana air pada kedalaman ini hanya berkisar 2º C (Hutabarat dan Evans, 1985)
Suhu merupakan faktor fisik yang sangat penting di laut. Bersama-sama dengan salinitas, mereka dapat digunakan untuk mengidentifikasi massa air tertentu dan bersama-sama dengan tekanan mereka dapat digunakan untuk menentukan densitas air laut. Densitas ini selanjutnya dapat digunakan untuk menentukan kejelukan air dimana suatu massa air akan menetap dalam keseimbangan (Romimohtarto, 1999).
Perbedaan jumlah panas yang diterima oleh permukaan bumi di tempat-tempat yang terletak pada lintang yang berbeda sebagai akibat dari bentuk bumi yang bulat. Cahaya matahari yang jatuh di atas daerah tropik terlebih dahulu akan melalui atmosfer dengan menempuh jarak yang lebih pendek daripada yang ditempuh di daerah kutub. Cahaya matahari ini juga memanasi daerah equator pada area yang lebih sempit jika dibandingkan dengan daerah kutub.
Suhu merupakan indikator yang penting untuk menunjukkan perubahan kondisi lingkungan, lebih-lebih fluktuasi suhu yang jelas baik vertikal maupun horizontal yang berubah dari suatu tempat ke tempat lain. Suhu air laut cenderung menurun dari permukaan sampai dasar perairan. Penampakan suhu di perairan tropik dan subtropik ditunjukkan oleh gradien suhu (perbedaan suhu dan parameter kedalaman) yang kecil sampai kedalaman tertentu. Distribusi suhu yang besar pada jarak kedalaman air yang kecil disebut thermocline (Nontji, 1987).
Suhu di laut adalah salah satu faktor yang sangat penting bagi kehidupan organisme lautan , karena suhu mempengaruhi baik aktifitas metabolisme maupun perkembangbiakan organisme-organisme tersebut.
Meskipun temperatur air tidak mematikan namun dapat menghambat pertumbuhan rumput laut. Pada umumnya rumput laut dapat tumbuh dengan baik di daerah yang mempunyai kisaran temperatur 26 - 330C. Suhu dapat mempengaruhi proses-proses fisiologi tanaman yaitu proses fotosinteisis, laju respirasi pertumbuhan dan reproduksi (Afrianto dan Liviawati, 1989).
Salinitas
Salinitas adalah berat zat-zat organik yang larut dalam 1 kg air laut. Ciri yang paling khas dimiliki oleh laut yang diketahui oleh setiap orang adalah rasanya yang asin. Hal ini disebabkan karena dalam laut terdapat berbagai macam garam terutama NaCl. Diperairan samudra salinitas berkiasar antara 34-35 o/oo. Diperairan pantai terjadi penurunan salinita karena adanya pengenceran oleh aliran sungai. Sebab salinitas di laut dipengaruhi oleh faktor seperti sirkulasi air, penguapan, curah hujan, dan aliran sungai (Anugerah Nontji, 1993).
Di daerah estuaria dapat memiliki struktur salinitas yang kompleks, kerena merupakan pertemuan antara air tawar dengan air laut. Menurut Anugerah dan Nontji, 1993) kemungkinan yang terjadi adalah
• perairan dengan stratifikasi salinitas yang sangat kuat, terjadi dimana air tawar merupakan lapisan tipis di permukaan sedangkan dibawahnya terdapat air laut.
• Perairan dengan stratifikasi sedang. Terjadi karena adanya gerakan pasang surut.
• Perairan dengan pengadukan vertikal yang kuat disebabkan oleh gerakan pasang surut sehingga mengakibatkan perairan menjadi homogen secara vertikal
Densitas
Gerakan air yang luas dapat diakibatkan oleh perbedaan densitas dari lapisan lautan yang mempunyai kedalaman berbeda-beda. Perbedaan ini timbul terutama disebatkan oleh salinitas dan suhu. Sebagai contoh, laut mediterania mempunyai salinitas yang tinggi yang merupakan hasil dari besarnya penguapan yang terjadi disini, akibatnya lapisan permukaan menjadi lebih padat yang kemudian akan tenggelam kelapisan yang lebih dalam. Sirkulasi masa air yang ditimbulkan oleh adanya perbedaan suhu dikenal sebagai thermohaline circulatio. Proses ini menyebabkan timbulnya aliran masa air dari laut yang dalam di daerah kutub selatan (Antartik) dan kutub utara (Artik) ke arah daerah tropik. Angin yang dingin membentuk masa air yang padat pada lapisan permukaan daerah-daerah kutub yang kemudian tenggelam masuk kelautan Antantik dan dari sini masa air tersebut mengalir kearah equator. Massa air kutub selatan lebih padat dari pada massa air di kutub utara (Hutabarat dan Evans, 1985)
Hampir semua organisme laut dapat hidup pada daerah yang mempunyai perubahan salinitas yang sangat kecil misalnya daerah estuaria adalah daerah yang mempunyai salinitas rendah karena adanya sejumlah air tawar yang masuk yang berasal dari daratan dan juga disebabkan karena adanya pasang surut didaerah ini kisaran salinitas yang normal untuk kehidupan organisme di laut adalah berkisar antara 30 - 35 ppm (Gossary, 2002).


DAFTAR PUSTAKA

Afrianto dan Liviawati, 1989. Beberapa Metode Budidaya Ikan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Dahuri, R, Rais, J., Ginting, S.P., Sitepu, M.J., 1996. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. PT. Pradnya Paramitha. Jakarta.

Gossary, Benny. 2002. Skripsi Komposisi Jenis Fitoplankton Berbahaya di Sekitar Pelabuhan Soekarno Hatta. Universitas Hasanuddin. Makassar.

Hutabarat, S. dan Stewart M. Evans, 1984. Pengantar Oseanografi. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Hutabarat, Sahala dan Evans. 2000. Pengantar Oseanografi. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.

James W. Nybakken, 1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologi, Djambatan, Jakarta

Kramadibrata, S., 1985. Perencanaan Pelabuhan. Ganesa Exact. Bandung.

Nontji, A., 1987. Laut Nusantara. Djambatan. Jakarta.

Sulistijo, Atmadja, A. Kadi, Rachmaniar, 1996. Pengenalan Jenis-jenis Rumput Laut Indonesia. Puslitbang Oseanologi-LIPI. Jakarta.

Triatmojo, Bambang. 1999. Tehnik Pantai. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.

Rabu, 16 Februari 2011

Langkah-langkah menginstal ArcGIS 9.3 versi Crack

1- Buka “Crack” file
2- Buka folder “License_server_Setup”
3- Klik 2x “Lmsetup.exe”
4- Maka akan muncul layar instal ArcGIS License Manager
5- Pilih yg paling atas, lalu Browse the input box
6- Pilih “37102011.EFL9″ dari folder Crack/License_server_Setup)
7- Klik Next
8- Jangan restart dulu komputernya
9- Copy semua file dari folder “license_server_crack:Arc_Info9.lic, ARCGIS.EXE, lmgrd.exe, lmtools.exe, dan lmutil.exe”ke C:Program files (x86)/ESRI/License/arcgis9x (replace semuanya)
10- Restart komputer sekarang
11- CopydanPaste file “37102011.EFL9″ ke tempat lain (BAGUSNYA TARUH DI FOLDER CRACK) kemudian rename menjadi “license.lic”
12- Buka file “license.lic” dengan notepad kemudian edit
13- Replace the server name “this_host” dengan computer name kita (caranya klik kanan "my komputer"-"propertise" dan pilih tab "computer name")
14- Save
15- Copy and Paste “license.lic” ke Program files (x86)/ESRI/License/arcgis9x
16- Sekarang klik 2x “lmtools.exe” pada folder seperti no.15 atau bisa melalui All Programs/ArcGis/License Manager (9.x)/License Manager Tools
17- maka akan muncul layar “LMTOOLS by acresso Software Inc.”
18- Pada tab “Service/License File pilih “Configuration Using Services”
19- Pilih tab “Config Services”
20- Pada service name muncul ” ArcGIS License Manager”
21- Pada “Path to the lmgrd.exe file” browse ke C:/program files(x86)/ESRI/License/arcgis9x /lmgrd.exe
22- Pada “Path to license file” browse ke C:/program files (x86)/ESRI/License/arcgis9x /license.lic
23- Pada “Path to debug log file” browse ke C:/program files (x86)/ESRI/License/arcgis9x /ArcGIS_LM.log
24- Pilih tab“Start/Stop/Reread”
25- Jika sdh ada status tulisan “Using License File: C:\Program Files (x86)\ESRI\License\arcgis9x\license.lic” \berarti udah OK, kalo mo diulang klik “Stop server”kemudian clik “Start server”mk akan muncul status sukses
26- Click “ReRead License File”
27- Pilih tab”Server Status” klik “Perform Status Enquiry”


Jika pada no.25,26,27 tdk berhasil berarti instal License Manager nya gagal, jika berhasil lanjut ke no.28

28-Sekarang instal ArcGIS dekstop sampai selesai
29- Klik” register later”
30- Copy “data_interop\fme_license.dat” dari folder crack ke “C:/program files (x86)/ArcGIS /Data Interoperability Extension”
31-start “Desktop Administrator” dari All Programs/ArcGis/Desktop Administrator lakukan perubahan pada hal berikut:
* “Software Product”: pilih“ArcInfo (Floating)”
* “License Manager”: ketik “localhost”
* “Availability”: pilih “ArcInfo Desktop (Floating)”
32- Restart komputer, dan selanjutnya klik ArcMap,
dan langsung buat peta yah.... hehehehehehehehe...
semoga cepat sarjana....

Kamis, 14 Oktober 2010

Masalah wilayah pesisr dan nilai suatu lahan dalam penataan ruang

Sebagai negara kepulauan, laut dan wilayah pesisir memiliki nilai strategis dengan berbagai keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimilikinya sehingga berpotensi menjadi prime mover pengembangan wilayah nasional. Bahkan secara historis menunjukan bahwa wilayah pesisir ini telah berfungsi sebagai pusat kegiatan masyarakat karena berbagai keunggulan fisik dan geografis yang dimilikinya. Agar pemanfaatan sumber daya laut dan pesisir dapat terselenggara secara optimal, diperlukan upaya penataan ruang sebagai salah satu bentuk intervensi kebijakan dan penanganan khusus dari pemerintah dengan memperhatikan kepentingan stakeholders lainnya. Selain itu, implementasi penataan ruang perlu didukung oleh program-program sektoral baik yang diselenggarakan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan masyarakat, termasuk dunia usaha. Dalam lingkup masyarakat, ada banyak hal yang harus diketahui sebelum melakukan pemanfaatan sumber daya laut dan pesisir ini. Banyak hal-hal yang mempengaruhi penataan ruang di sekitar wilayah pesisir sperti halnya ekosistem plantai dan laut.
Dengan karakteristik wilayah laut dan pesisir sebagaimana disampaikan di atas, wilayah laut dan pesisir menghadapi berbagai isu dan permasalahan terkait dengan penataan ruang sebagai berikut:
a. Potensi konflik kepentingan (conflict of interest) dan tumpang tindih antar sektor dan stakeholders lainnya dalam pengelolaan dan pemanfaatan wilayah pesisir. Kondisi ini muncul sebagai konsekuensi beragamnya sumberdaya pesisir yang ada serta karakteristik wilayah pesisir yang “open acces” sehingga mendorong wilayah pesisir telah menjadi salah satu lokasi utama bagi kegiatan-kegiatan beberapa sektor pembangunan (multi-use). Dalam hal ini, konflik kepentingan tidak hanya terjadi antar “users”, yakni sektoral dalam pemerintahan dan juga masyarakat setempat dan pihak swasta, namun juga antar penggunaan antara lain (i) perikanan budidaya maupun tangkapan (ii) pariwisata bahari dan pantai (iii) industri maritime seperti perkapalan (iv), pertambangan, seperti minyak, gas, timah dan galian lainnya; (v) perhubungan laut dan alur pelayaran dan yang paling utama adalah (vi) kegiatan konservasi laut dan pesisir seperti hutan bakau (mangrove), terumbu karang dan biota laut lainnya.
b. Potensi konflik kewenangan (jurisdictional conflict) dalam pengelolaan dan pemanfaatan wilayah laut dan pesisir. Kondisi ini muncul sebagai konsekuensi tidak berhimpitnya pembagian kewenangan yang terbagi menurut administrasi pemerintah provinsi dan kabupaten/kota dengan kepentingan wilayah pesisir tersebut yang seringkali lintas wilayah otonom. Dalam Pasal 3 Undang-Undang No 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah menyatakan bahwa kewenangan Daerah Propinsi terdiri atas darat dan wilayah laut sejauh 12 mil laut yang diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan atau ke arah perairan kepulauan. Sementara menurut pasal 10 UU 22/1999, kewenangan Daerah Kabupaten/Kota terdiri atas wilayah darat dan wilayah laut sejauh sepertiga dari batas laut Daerah Propinsi atau sejauh 4 (empat) mil laut. Di satu sisi, kejelasan pembagian kewenangan ini diharapkan dapat meningkatkan keberlanjutan dari pemanfaatan sumberdaya pesisir, seiring dengan semakin pendeknya ”span control” dan semakin jelasnya akuntabilitasdalam pengelolaanya. Di sisi lain, justru hal ini berpotensi menimbulkan persoalan konflik antar wilayah dan potensi disintegrasi ketika kualitas pengelolaan sumberdaya kelautan dan pantai di daerah otonom tersebut sangat dipengaruhi oleh kegiatan yang berada di 9 wilayah Kabupaten/Kota lainnya yang berada pada bagian atas daratan, hulu atau yang bersebelahan.
c. Rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil yang bermatapencaharian di sektor-sektor non-perkotaan. Sebagian besar dari 126 kawasan tertinggal yang diidentifikasi dalam kajian Penyempurnaan RTRWN merupakan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
d. Timbul berbagai dampak pembangunan yang tidak hanya bersumber dari dalam wilayah pesisir, tetapi juga dari wilayah laut dan pedalaman. Hal ini merupakan konsekuensi dari fungsi wilayah pesisir sebagai “interface” antara ekosistem darat dan laut, wilayah pesisir (coastal areas) memiliki keterkaitan antara daratan dan laut. Dengan keterkaitan kawasan tersebut, maka pengelolaan kawasan di pesisir, laut dan pulau-pulau kecil tidak terlepas dari pengelolaan lingkungan yang dilakukan di kedua wilayah tersebut. Berbagai dampak lingkungan yang terjadi pada wilayah pesisir merupakan akibat dari kegiatan pembangunan yang dilaksanakan di wilayah daratan beserta perubahan rona lingkungan yang diakibatkannya. Pembangunan wilayah daratan telah mengakibatkan 59 (lima puluh sembilan) SWS berada dalam kondisi kritis. Hal ini berdampak pada tingginya tingkat sedimentasi yang mengancam keberadaan padang lamun (sea grass) dan terumbu karang (coral), selain bencana banjir yang menimpa kawasan pesisir. Demikian pula dengan berbagai kegiatan yang dilakukan di laut lepas, seperti kegiatan pengeboran minyak lepas pantai dan perhubungan laut, juga menimbulkan polusi yang mengancam ekosistem pesisir. Penanggulangan permasalahan yang muncul di wilayah laut dan pesisir ini tidak dapat dilakukan hanya di wilayah pesisir saja, tetapi harus dilakukan mulai dari sumber dampaknya. Sebagai contoh, penanganan pendangkalan laut di kawasan pesisir tidak dapat diatasi dengan melakukan pengerukan, tetapi harus terintegrasi dengan pengelolaan kawasan lindung dan pembangunan waduk di bagian hulu. Dengan kata lain, pengelolaan di wilayah ini harus diintegrasikan dengan wilayah daratan dan laut serta daerah aliran sungai (DAS) menjadi satu kesatuan dalam keterpaduan pengelolaan, dimana keterkaitan antar ekosistem menjadi aspek yang haru diperhatikan.
e. Pemanfaatan potensi sumber daya kemaritiman yang tidak optimal, terutama di wilayah KTI dan perbatasan di mana sektor kelautan dan perikanan merupakan prime mover pengembangan wilayah. Hal ini diindikasikan antara lain oleh (i) kegiatan illegal fishing oleh nelayan asing di perairan Indonesia; (ii) tingkat pemanfaatan potensi perikanan tangkap yang melebihi potensi lestari3 sebagaimana terjadi di Selat Malaka yang mencapai 108,8% dari potensi yang ada atau mengalami overfishing sebesar 18,8% dan Laut Jawa (88,98%); (iii) pemanfaatan potensi perikanan tangkap yang belum optimal sebagaimana di Laut Cina Selatan (42,5%), Selat Makassar dan Laut Flores (66,7%), Laut Maluku (43,1%), Laut Sulawesi dan Samudera Pasifik (63,5%), dan Laut Arafura (53,8%); (iv) pemanfaatan potensi budidaya perikanan juga masih rendah, yakni baru mencapai 330 ribu hektar dari potensi sebesar 830 ribu hektar dan hanya 80% yang berupa tambak intensif; dan (v) nilai investasi baik PMA dan PMDN yang masuk, pada bidang kelautan dan perikanan selama 30 tahun tidak lebih dari 2% dari total investasi di Indonesia.
f. Lemahnya kerangka hukum pengaturan pemanfaatan sumber daya laut dan pesisir serta perangkat hukum untuk penegakannya menyebabkan masih banyaknya pemanfaatan sumberdaya yang tidak terkendali. Juga tidak adanya kekuatan hukum dan pengakuan terhadap system-sistem tradisional serta wilayah laut dalam pengelolaan sumber daya pesisir. Dalam konteks ini, RTRW dalam berbagai tingkatan yang telah memiliki aspek legal berikut aturan-aturan pelaksanaanya seharusnya dapat dimanfaatkan sebagai “guidance” dalam pengelolaan wilayah pesisir.
g. Kenaikan muka air laut (sea level rise) sebagai akibat fenomena pemanasan global memberikan dampak yang serius terhadap wilayah pesisir yang perlu diantisipasi penanganannya. Diperkirakan akan ada 30 kota pantai di Indonesia yang potensial terkena dampak pemanasan global (20 kota di KBI dan 10 kota di KTI) sebagaimana disajikan dalam. Secara umum kenaikan muka air laut akan mengakibatkan dampak sebagai berikut: (a) meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir, (b) perubahan arus laut dan meluasnya kerusakan mangrove, (c) meluasnya intrusi air laut, (d) ancaman terhadap kegiatan sosial-ekonomi masyarakat pesisir, dan (e) berkurangnya luas daratan atau hilangnya pulau-pulau kecil.

DAFTAR PUSTAKA
Sjarifuddi,A.,2002, Kebijakan Kimpraswil dalam rangka Percepatan Pembangunan Kelautan dan Perikanan, Makalah pada Rapat Koordinasi Nasional Departemen Kelautan dan Perikanan Tahun 2002, Hotel Indonesia – Jakarta.
BKTRN, 2003., Dokumen Kesepakatan Gubernur Seluruh Indonesia pada Rakernas BKTRN, Surabaya.

SISTEMATIKA DAN TEKHNIK IDENTIFIKASI KARANG

Terumbu karang atau coral reefs adalah ekosistem di dasar laut tropis yang dibangun terutama oleh biota laut penghasil kapur (CaCO ) yang dihasilkan oleh organisme karang pembentuk terumbu (karang hermatipik) khususnya jenis-jenis karang batu dan alga berkapur, bersama-sama dengan biota yang hidup di dasar lainnya dari filum Cnidaria, ordo Scleractinia yang hidup bersimbiosis dengan zooxantellae, dan sedikit tambahan dari algae berkapur serta organisme lain yang menyekresi kalsium karbonat Terumbu karang bisa dikatakan sebagai hutan tropis ekosistem laut.
Ekosistem ini terdapat di laut dangkal yang hangat dan bersih dan merupakan ekosistem yang sangat penting dan memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Salah satu komponen utama sumber daya pesisir dan laut utama, disamping hutan mangrove dan padang lamun. Karang pembentuk terumbu (karang hermatipik) hidup berkoloni, dan tiap individu karang yang disebut polip menempati mangkuk kecil yang dinamakan koralit.Tiap mangkuk koralit mempunyai beberapa septa yang tajam dan berbentuk daun yang tumbuh keluar dari dasar koralit, dimana septa ini merupakan dasar penentuan spesies karang. Tiap polip adalah hewan berkulit ganda, dimana kulit luar yang dinamakan epidermis dipisahkan oleh lapisan jaringan mati (mesoglea) dari kulit dalamnya yang disebut gastrodermis. Dalam gastrodermis terdapat tumbuhan renik bersel tunggal yang dinamakan zooxantellae yang hidup bersimbiosis dengan polip. Zooxantellae dapat menghasilkan bahan organik melalui proses fotosintesis, yang kemudian disekresikan sebagian ke dalam usus polip sebagai pangan.
Pada terumbu karang karibia dearah karang dibagi menjadi bebeapa jenis berdasarkan atas kedalamannya, yaitu:
a. Karang dangkal (reef flat)
Pada daerah ini banyak terjadi aktifitas fisik seperti gelombang, sedimentasi. Karang pada daerah ini dapat meredam energi gelombang sampai 97%. Zonasi pada daerah ini mengalami transisi dimana karang bercabang dan karang api cenderung lebih kearah darat.
Karang ini beradaptasi terhadap tingkat sedimentasi yang tinggi. Jenis yang mendominasi pada daerah ini yakni jenis massiv seperti Porites.
b. Karang depan (reef crest)
Zonasi pada daerah ini sangat kompleks. Daerah ini berada dibawah zona ombak pecah dan gelombang. Pada daerah ini banyak ditemukan jenis brancing seperti Acropora.
c. Slope karang (reef slope)
Daerah ini terdapat pada pertemuan teluk. Kedalamannya antara 30-35 m. Pada tempat ini tingkat kecuramannya lebih tinggi dibandingkan dengan daerah sebelumnya. Daerah ini bentuk topografinya brbukui-bukit dengan zonasi karang yang tidak jauh berbeda dengan daerah sebelumnya. Dinding karang Daerah ini memiliki kedalaman antara 50-85 m. Tingkat kecuraman daerah ini yang paling tinggi dibandingkan daerah sebelumnya. Karang pada daerah ini kebanyakan bentuknya melebar untuk menangkap sinar matahari yang kurang
Selain zonasi pada daerah yang dangkal terdapat juga zonasi karang pada daerah yang agak dalam, dengan kedalaman antara 60 m sampai 150 m. Zonasi tersebut disebut Twilight Zone. Pada zonasi ini sangat tergantung pada cahaya matahari. Zonasi ini ditemukan pada samudera terbuka yang jernih dimana cahaya matahari dapat tembus sampai kedalaman maksimum. Pada batas atas yakni 60 m mewakili pertumbuhan optimal karang, sedangkan batas bawah mewakili batas intensitas cahaya matahari. Zonasi karang pada daerah ini masih sangat sedikit yang diselidiki sehingga data yang diperoleh masih sangat sedikit.
Daftar istilah anatomi penyusun rangka karang
a. Koralit, merupakan keseluruhan rangka kapur yang terbentuk dari satu polip.
b. Septa, lempeng vertikel yang tersusun secara radial dari tengah tabung, seri
septa berbentuk daun dan tajam yang keluar dari dasar dengan pola berbeda
pada tiap spesies sehingga menjadi dasar pembagian (klasifikasi) spesies karang. Dalam satu koralit terdapat beberapa lempeng vertikel septa.
c. Konesteum, suatu lempeng horisontal yang menghubungkan antar koralit.
d. Kosta, bagian septa yang tumbuh hingga mencapai dinding luar dari koralit
e. Kalik, bagian diameter koralit yang diukur dari bagian atas septa yang berbentuk lekukan mengikuti bentuk bibir koralit
f. Kolumela, struktur yang berada di tengah koralit. Terdapat empat bentuk kolumela yang sering dijumpai yaitu padat, berpori, memanjang dan tanpa kolumela.
g. Pali, bagian dalam sebelah bawah dari septa yang melebar membentuk tonjolan sekitar kolumela. Membentuk struktur yang disebut paliform.
h. Koralum, merupakan keseluruhan rangka kapur yang dibentuk oleh keseluruhan polip dalam satu individu atau satu koloni.
i. Lempeng dasar, merupakan bagian dasar atau fondasi dari septa yang muncul membentuk struktur yang tegak dan melekat pada dinding.
Dari hasil praktik lapang coralogy, kelompok saya mendapat tugas untukmencari karang yang mempunyai bentuk pertumbuhan bercabang (branching).
Bentuk Bercabang (branching), memiliki cabang lebih panjang daripada diameter yang dimiliki, banyak terdapat di sepanjang tepi terumbu dan bagian atas lereng,terutama yang terlindungi atau setengah terbuka. Bersifat banyak memberikan tempat perlindungan bagiikan dan invertebrata tertentu.

Reproduksi Seksual
Karang memiliki mekanisme reproduksi seksual yang beragam yang didasari oleh penghasil gamet dan fertilisasi. Keragaman itu meliputi:
A. Berdasar individu penghasil gamet, karang dapat dikategorikan bersifat:
1. Gonokoris
Dalam satu jenis (spesies), telur dan sperma dihasilkan oleh individu yang berbeda. Jadi ada karang jantan dan karang betina
Contoh: dijumpai pada genus Porites dan Galaxea
2. Hermafrodit
bila telur dan sperma dihasilkan dalam satu polip. Karang yang hermafrodit juga kerap kali memiliki w aktu kematangan seksual yang berbeda, yaitu
• Hermafrodit yang simultan �� menghasilkan telur dan sperma pada w aktu
bersamaan dalam kesatuan sperma dan telur (egg-sperm packets). Meski dalam satu paket, telur baru akan dibuahi 10-40 menit kemudian yaitu setelah telur dan sperma berpisah.
Contoh: jenis dari kelompok Acroporidae, favidae
• Hermafrodit yang berurutan, ada dua kemungkinan yaitu
individu karang tersebut berfungsi sebagai jantan baru, menghasilkan sperma untuk kemudian menjadi betina (protandri), atau adi betina dulu, menghasilkan telur setelah itu menjadi jantan (protogini)
Contoh: Stylophora pistillata dan Goniastrea favulus
Meski dijumpai kedua tipe di atas, sebagian besar karang bersifat gonokoris
B. Berdasar mekanisme pertemuan telur dan sperma
1. Brooding/planulator
Telur dan sperma yang dihasilkan, tidak dilepaskan ke kolom air sehingga fertilisasi secara internal. Zigot berkembang menjadi larva planula di dalam polip, untuk kemudian planula dilepaskan ke air. Planula ini langsung memiliki kemampun untuk melekat di dasar perairan untuk melanjutkan proses pertumbuhan.
Contoh: Pocillopora damicornis dan Stylophora
2. Spawning
Melepas telur dan sperma ke air sehingga fertilisasi secara eksternal. Pada tipe ini pembuahan telur terjadi setelah beberapa jam berada di air.
Contoh: pada genus Favia
Dari sebagian besar jenis karang yang telah dipelajari proses reproduksinya, 85% di antaranya menunjukkan mekanisme spawning. Waktu pelepasan telur (Richmond 1991)

Siklus reproduksi karang secara umum adalah sebagai berikut: Telur & spema dilepaskan ke kolom air (a) �� fertilisasi menjadi zigot terjadi di permukaan air (b) �� zygot berkembang menjadi larva planula yang kemudian mengikuti pergerakan air . Bila menemukan dasaran yang sesuai, maka planula akan menempel di dasar (c) �� planula akan tumbuh menjadi polip (d) �� terjadi kalsifikasi (e) �� membentuk koloni karang (f) namun karang soliter tidak akan membentuk koloni
Baik reproduksi secara seksual maupun secara aseksual dijalankan oleh karang tentunya untuk tujuan mempertahankan keberadaan spesiesnya di alam. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan sehingga kedua metode tersebut saling melengkapi. Berikut adalah perbandingan reproduksi aseksual dan seksual dipandang dari sisi ketahanan dan adaptasi terhadap lingkungan.
Acropora florida
Acropora florida adalah jenis karang yang memiliki pertumbuhan bercabang (branching). Acropora florida banyak ditemukan di perairan spermonde khususnya di pulau barrang lompo. Habitat dari acropora florida, banyak ditemukan diperairan yang dangkal (reef crest) daerah ini berada dibawah zona ombak pecah dan gelombang. Cara identifikasi yang kami lakukan adalah cara visual yaitu pengamatan pada sampel secara langsung.
Bentuk morfologi dari acropora ini adalah, percabangan yang tebal, terlihat sangat kuat, axial dan radialnya sangat kelihatan dan warnahnya hijau tua.
Genus Acropora memiliki jumlah jenis (spesies) terbanyak dibandingkan genus lainnya pada karang. Karang jenis ini biasanya tumbuh pada perairan jernih dan lokasi dimana terjadi pecahan ombak. Bentuk koloni umumnya bercabang dan tergolong jenis karang yang cepat tumbuh, namun sangat rentan terhadap sedimentasi dan aktivitas penangkapan ikan (Johan, 2003).
Teknik kedua yang dipakai dalah teknik kedua yaitu Teknik menelaah rangka kapur karang. Teknik ini memperhatikan bentuk rangka kapur karang, pada karang yang telah mati. Untuk dapat menerapkan teknik ini, kita terlebih dahulu harus memahami bagian-bagian dari rangka kapur karang. Bagian-bagian dari rangka kapur karang yang perlu diperhatikan antara lain ialah bentuk koloni (apakah tergolong masif, bercabang, lembaran, dll.), bentuk koralit (ceroid, plocoid, meandroid, dll.) dan bagian-bagian koralit lainnya seperti septa, pali, columella dan coenostium. Alat bantu yang diperlukan antara lain ialah kaca pembesar (Johan, 2003). Dan struktur koralit yang terdapat pada acropora florida adalah phaceloid.
Teknik ketiga yaitu pengamatan pada bentuk pertumbuhan karang. Cara ini sangat mudah dan cepat dipelajari yaitu dengan melihat bentuk pertumbuhan koloni karang. Bagi peneliti muda dan penelitian kondisi terumbu karang, metode ini sudah sering digunakan. Kemudian kemampuan identifikasi karang akan terus meningkat sesuai dengan pengalaman seiring dengan berjalannya waktu dan seringnya melakukan survei karang (Johan, 2003).
Koloni sangat umum dijumpai dalam bentuk bercabang, meja dan semak-semak. Bentuk mengerak (encrusting) dan submasif jarang ditemukan. Memiliki dua tipe koralit yaitu axial koralit dan radial koralit. Tidak memiliki kolumella. Dinding koralit terpisah dengan konesteum (koralit memiliki dinding masing-masing). Polip hanya muncul dimalam hari. ( Johan, 2003 ).
Reproduksi
Reproduksi dari acropora ada aseksual dan seksual, acropora kadang terjadi aseksual seperti fragmentasi. Terkadang karang khususnya yang betuyk pertumbuhannya branching gampang patah dan pada saat itulah sewaktu patahannya jatuh dan menyentuh substrat yang cocok.
Asosiasi
Pada waktu sampel ini diambil, acropora banyak ditemukan di daerah reef crest dan reef slope karena acropora tidak dapat hidup di daerah yang ekstrim akibat hempasan ombak, acropora hanya hidup pada daerah perairan yang tidak terlalu ekstrim. Acropora berasosiasi dengan karang massive, ikan karang anemone dan bintang laut.
Cara makan
1. Menangkap makanan dengan menggunakan trentakelnya.
2. Menerima hasil fotosintesis dari zooxanthellae.


DAFTAR PUSTAKA

Johan, 2003 . Sistematika dan teknik identifikasi karang, jurnal.IPB. Bogor.
Timotius, 2002. Biologi karang1. Jurnal. IPB. Bogor.
http://www.ubb.ac.id/indexkarang.php?judul_karang=Laboratorium%20Perikanan%20UBB%20Berhasil%20Transplantasi%20Karang&&nomorurut_karang=26
http://www.docstoc.com/docs/DownloadDoc.aspx?doc_id=10627387&ref_url
http://www.bishopmuseum.org).
(http://geology.uprm.edu).